^.Wth My Fam.^

^.Wth My Fam.^

Minggu, 18 Maret 2012

Makalah Trauma Branchialis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kelahiran seorang bayi merupakan saat yang membahagiakan orang tua, terutama bayi yang sehat. Bayi yang nantinya tumbuh menjadi anak dewasa melalui proses yang panjang, dengan tidak mengesampingkan factor lingkungan keluarga. Terpenuhinya kebutuhan dasar anak (asah-asih-asuh)oleh keluarga akan memberi lingkungan yang terbaik bagi anak, sehingga tumbuh kembang anak menjadi seoptimal mungkin. Tetapi tidak semua bayi lahir dalam keadaan sehat. Beberapa bayi lahir dengan gangguan pada masa prenatal, natal, pascanatal. Keadaan ini akan member pengaruh bagi tumbun kembang selanjutnya. Seperti mengalami salah satunya trauma pada fleksus brachialis dan masi banyak lagi gangguan yang tidak normal pada bayi.  
Asuhan neonates dengan jejas ( trauma) persalinan sangat berpengaruh terhadap trauma pada kelahiran. Trauma lahir adalah trauma mekanis yang disebabkan karena persalinan/kelahiran. Pengertian yang lain tentang trauma lahir adalah trauma pada bayi yang diterima dalam atau  karenaproses kelahiran. Istilah trauma digunakan untuk menunjukkan trauma mekanik dan anoksik, baik yang dapat dihindarikan maupun yang dapat dihindarkan, yang didapat bayi pada masa persalinan dan kelahiran. Trauma dapat terjadi sebagai akibat keterampilan atau perhatian medic yang tidak  pantas atau tidak memadai sama sekali, atau dapat terjadi meskipun telah mendapat perawatan kebidanan yang terampil dan kompeten dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan tindakan atau sikap orang tua yang acuh tak acuh. 
Insidensi trauma pada kelahiran diperkirakan sebesar 2-7 per 1000 kelahiran hidup. Walaupun insiden telah menurun pada tahun-tahun belakang ini, sebagian karena kemajuan di bidang teknikdan penilaian obstektrik, trauma lahir masi merupakan permasalahan pentiang, karena walaupun hanya trauma yang bersifat sementara sering tampak nyata oleh orang tua dan menimbulkan cemas serta keraguan yang memerlukan pembicaraan yang bersifat suportif dan informatif. Beberapa trauma pada awalnya dapat bersifat laten, tetapi akan menimbulkan penyakit atau akibat sisa yang berat. Trauma lahir merupakan salah satu factor penyebab utama kematian perinatal. Di Indonesia angka kematian perinatal 44 per 1000 kelahiran hidup dan 9,7% diantanya sebagai dari akibat dari trauma lahir.
Pada saat persalina, perlukaan atau trauma persalinan kadang-kadang tidak dapat dihindarkan dan lebih sering ditemukan pada persalinan yang terganggu oleh beberapa sebab. Penangan persalinan secara sempurna dapat mengurangi frekuensi peristiwa trauma pada fleksus brachialis dan mengurangi juga jumlah kematian.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai  berikut :
1.        Bagaimana peran bidan dalam penatalaksanaan tentang trauma pada fleksus
brachialis ?
2.    Mengapa trauma pada fleksus brachialis terjadi pada bayi ?























BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Fleksus Branchialis
Fleksus brachialis adalah anyaman (latin : fleksus ) serat saraf yang berjalan
dari tulang belakang C4-T1, kemudian melewati bagian leher dan ketiak, dan akhirnya keseluruh lengan ( atas dan bawah ). Serabut saraf akan didistribusikan kebeberapa bagian lengan. Jaringan saraf dibentuk oleh cervical yang bersambuangan dengan dada dan tulang belakang urat dan pengadaan di lengan dan bagian bahu.
Etiologi Trauma Fleksus Brakhialis Pada Bayi Baru Lahir
Trauma fleksus brakhialis pada bayi dapat terjadi karena beberapa factor antara lain:
1) Faktor bayi sendiri :
- Makrosomia
- Presentasi ganda
- Letak sunsang
- Distosia bahu
- Malpresentasi
- Bayi kurang bulan
2) Faktor ibu :
- ibu sefalo pelvic disease (panggul ibu yang sempit)
- umur ibu yang sudah tua
- adanya penyulit saat persalinan
3) faktor penolong persalinan
- tarikan yang berlebihan pada kepala dan leher saat menolong kelahiran bahu pada
   presentasi kepala
- tarikan yang berlebihan pada bahu pada presentasi bokong

2.1.1 Tanda Dan Gejala Bayi Dengan Trauma Fleksus Brakhialis
1.      gangguan motorik pada lengan atas
2.      paralisis atau kelumpuhan pada lengan atas dan lengan bawah
3.      lengan atas dalam keadaan ekstensi dan abduksi
4.      jika anak diangkat maka lengan akan lemas dan tergantung
5.      reflex moro negative
6.      tangan tidak bisa menggenggam
7.      reflex meraih dengan tangan tidak ada
2.2 Trauma pada Fleksus Brachialis
Proses kelahiran sangat dipengaruhi oleh kehamilan. Dalam  kehamilan yang tidak ada gangguan, diharapkan kelahiran bayi yang normal, di mana bayi dilahirkan cukup bulan, pengeluaran dengan tenaga ibu mengedan denga cara tidak dipaksakan dan kontaraksi kandung ramin tanpa mengalami akfiksi yang berat maupun trauma lahir seperti trauma pada fleksus brachialis
Macam-macam plesksus brachialis yaitu :
1.    Paralis wajah dan cedera pleksus brachialis
Cedera pada wajah termasuk memar karena penggunaan forsep atau paralis wajah yang disebabkan oleh forsep maupun tekanan sakkrum ibu. Tanda-tanda paralis wajah termasuk wajah asimetris. Salah satu mata mungkin tetap terbuka. Tindakan kebidanan dapat meliputi konsultasi penggunaan pelindung mata ( eye patch) dan tetesan mata untuk lubrikasi. Paralis ini bersifat sementara.
Cedera fleksus brachialis dapat terjadi saat prenatal atau selama proses kelahiran saat traksi digunakan di leher. Cedera tersebut dapat terjadi pada kelahiran persentasi bokong atau kelahiran yang diperberat distosia bahu. Bahu baru lahir yang mengalami cedera fleksus brachialis rewel dan merasa nyeri. Manifentasi cedera bergantung pada radiks saraf yang terkena dan derajat cedera. Radiks saraf dapat terkena adalah radiks saraf servikal C5 dan C6( paralis Erb-Duchenne ), radiks C8 dan T1 ( paralis Klumpke ), arau keduanya.
Tanda-tanda fisik paralisis Erb-Duchenne termasuk hilangnya pergerakan secara pada lengan yang terkena dengan aduksi pada bagian bawah lengan tersubut. Hal ini menyebabkan karakteristik tanda “tip pelayanan” (waiter's tip) yang ditandai denga totasi iternal bagian bawah lengan dengan jari dan pergelangan tangan fleksi. Refles menggenggam tidak terganggu, tetapi reflex moro lemah pada sisi yang terkena.
Pada paralisis Klumpke, refles genggam hilang dan tangan bayi dalam postur seperti mencakar. Cedera fleksus brachialis sering terjadi dan ditemukan pada hampir 1 dalam tersebut Biasanya terjadi setelah suatu persalinan yang sulit, namun kadangkala sesudah persalinan yang tampaknya mudah, bayi baru lahir dengan mengalami kelumpuhan. Paralisis Dukchenne atau Erb meliputi paralisis mulkulus deltoideus dan infraspinatus disamping lengan tanpak lemas dan tergantung disisi tubuh, dengan lengan bawah dalam keadaan ekstensi serta rotasi ke dalam. Fungsi jari-jari tangan biasanya tidak terganggu.
Lesi ini terjadi akibat regangan atau robekan pada radiks superior pleksus brachialis yang mudah mengalami tegangan ekstrim akibat tarikan kepala ke lateral, sehingga denag tajam memfleksikan pleksus tersebut kea rah salah satu bahu. Mengingat traksi dengan arah ini sering dilakukan untuk melahirkan bahu pada presentasi verteks yang normal, paralisis Erb dapat tejadi pada persalinan yang tampak mudah. Karena itu, dalam melakukan ekstraksi kedua bahu bayi, kita harus berhati-hati agar tidak melakukan flaksi lateral leher yang berlebihan. Yang paling sering terjadi, pada kasus dengan persentasi kepala, janin yang menderita paralisis ini memiliki ukuran khas abnormal yang besar, yaitu denga berat 4000 gram atau lebih.
Pada ekstraksi bokong, kita harus memberikan perhatian terutama untuk mencegah ekstensi kedua lengan lewat kepala. Lengan yang ektensi bukan saj memperlambat persalinan bokong namun juga meningkatkan resiko paralisis. Prognosis keadaan ini biasanya baik bial dilakukan fisioterapi segera dan tepat. Namun, demikian kadangkala terdapat kasus yag tidak berhasil diatasi denagn segalah tindakan dan lengan bayi mengalami paralisis permanen.
Yang lebih jarang terjadi, trauma terbatas pada nervus bagian distal dari pleksus brachialis yang menimbulkan paralisis tangan atau paralisis Klumpke.
Penatalaksanaan kebidanan meliputi rujukan untuk membebat yang terkena dekat dengan tubuh dan konsultasi dengan tim pediatric. Orang tua harus dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari menyentuh ekstremitas yang tekena selama minggu pertama karena adanya nyeri. Orang tua dapat diyakinkan bahwa pada mayoritas kasus, paralisis hilang dalam 3-6 bulan, dengan perbaikan awal dibuktikan dalam beberapa minggu. Terapi ini bermanfaat setelah pembengkakan pertama berkurang.
Cedera pada radiks lebih tinggi, yaitu pada pleksus brachialis (C3-C5) dapat menyebabkan tanda gangguan pernapasan yang signifikan karena paralisis saraf frenikus dan gangguan diafragma. Bayi baru lahir yang mengalami tipe cedera saraf ini bernapas sangat dangkal dengan ekskursi pernapasan dan memerlukan dukungan pernapsan agresif saat lahir.  
2.    Paralisis fleksus brachialis
Timbul akibat tarikan kuat pada leher bayi, misal pada distosia bahu atau persalinan sunsang.
Kelainan ini terdiri atas :
a.    Paralisis Duchenne – Erb yaitu mengenai lengan atas dipersarafi cabang-cabang C5-C6,lengan dalam dengan ektensidan aduksi dengan refleks biseps dan refleks Moro negatif atau dengan pengertian lain adalah kelumpuan bagian tubuh yang disarafi oleh cabang-cabang C5 dan C6 dari fleksus brachialis.disini terdapat kelemahan untuk fleksi, abduksi, serta  memutar keluar, disertai hilangnya refleks biseps dan Moro. Jadi bayi diangkat maka lengan yang lumpuh akan tergantung lemas.
b.    Paralisis Klumpke, yaitu mengenai lengan bawah yang depersarafi cdabang-cabang C8-T1,sangat jarang ditemukan atau dengan kata lain kelumpuhan bagian-bagian tubuh yang disarafi oleh cabang C8-T1 dari fleksus brachialis. Disini terdapat kelemahan otot-otot freksor pergelangan tangan, sehingga bayi kehilangan refkes mengepal.
Kelainan ini timbul akibat tarikan yang kuat didaerah leher pada saat lahirnya bayi, sehingga terjadi kerusakan pada fleksus brachialis. Hal ini ditemukan pada persalinan sunsang apabilah dilakukan traksiyang kuat dalam usaha melahirkan kepala bayi. Pada persalinan presentasi kepala, kelainan dapat terjadi pada janin pada bahu lebar.
Pengobatan ialah dengan imobilisasi lengan yang lumpuh dalam posisi lengan atas abduksi 90,siku fleksi 90disertai supinasi lengan bawah dan pergelangan tangan dalam ekstensi, selain 12 jam sehari, disertai massege dan latihan gerak. Atau penaggulangannya dengan jalan meletakkan lengan atas dalam posis abduksi 90 dan putaran keluar. Siku berada dalam fleksi 90 disertai supinasi lengan bawah dengan ektensi pergelangan dan telapak tangan menghadap kedepan. Penyembuhan biasanya setelah beberapa hari, kadang-kadang 3-6 bulan. Atau penyembuhan berpariasi antara 2 bulan sampai 2 tahun
3.    Brachialis palsi
a.    Pengertian
Kelumpuhan pada fleksus brachialis.
b.    Penyebab
1)    Tarikan lateral pada kepala dan leher pada waktu melahirkan bahu presentasi
                   kepala
2)    Apabilah dengan entensi melewati kepala pada presentasi bokong atau terjadi
       tarikan yang berlebihan pada bahu
c.    Gejala
1)    Gangguan motorik lengan atas
2)    Lengan atas dalam kedudukan ekstansi dan abduksi
3)    Jika anak diangkat maka lengan akan lemas tergantung
4)    Refleks moro negatif
5)    Hiperekstensi dan fleksi pada jari-jari
6)    Refleks meraih dengan tangan tidak ada
7)    Paralisis dari lengan atas dan lengan bawah
“Gejala-gejala tersebut tergantung besar kecilnya kelumpuhan”
d.    Penatalaksanaan
1)    Immobilisasi parsial dan penempatan lengan yang sesuai untuk mencegah
       terjadinya kontraktur
2)    Beri penguat atau bidai selama 1-2 minggu pertama kehidupannya. Caranya :
        letakkan tangan bayi yang lumpuh disamping kepalanya yaitu dengan memasang
        perban pada pergelangan tangan bayi kemudian dipanitikan dengan bantal atau
        seprei disamping kepalanya
3)    Rujuk segera kerumah sakit
2.3 Penyebab Trauma Fleksus Brancialis
Ada banyak penyebab kemungkinan lesi pleksus brachialis. Trauma adalah penyebab yang paling sering, selain itu juga konpresi local seperti pada tumor ideopatik, radiasi, post operasi dan cedera pada lahir.
2.4 Pemeriksaan Penunjang
                Pemeriksaan radiografi
1.    Foto vetebra vertical untuk mengetahui apakah ada fraktur pada vertebra vertical
2.    Foto bahu untuk mengetahui apakah ada fraktur scapula, klavekula dan hemerus
       terapi okupasi terutama diperlukan untuk memelihara luas gerak sendi bahu,   
       membuat ortesa yang tepat untuk membantu fungsi tangan, siku dan lengan,  
       mengotrol edema deficit sensorik.       








BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Pengertian dari fleksus brachialis adalah serat saraf yang berjalan dari tulang
belakang C5-T1 kemudian melewati bagian leher dan ketiak dan akhirnya keseluruh lengan (atas dan bawah).  Trauma pada fleksus brachialis
1.    Paralisis wajah dan cedera pleksus brachialis
2.    Paralisis fleksus brachialis
3.    Brachialis palsi
3.2  Saran
     Dalam menangani persalinan bidan harus memperhatikan persalinan tersebut dengan penuh hati-hati  agar dapat melakukan persalinan  dengan persalinan yang normal dan seorang bidanpun dapat menghindari sebagian dari persalinan yang abnormal seperti trauma ,pada pleksus brachialis.pada saat persalianan neonates. Oleh karena itu bidan juga sangat berperan dalam menangani trauma pada fleksus brachialis dengan cara merujuk kerumah sakit terdekat.
















ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. G HARI KE- 5 DENGAN TRAUMA PADA FLEKSUS BRAKHIALIS DI BPS KURNIA  
BENGKULU TANGGAL 28 JANUARI 2010

1. PENGUMPULAN DATA
A. BIODATA
Biodata bayi
Nama bayi                                 : bayi Ny. G
Umur bayi                                  : 5 hari
Tanggal / jam lahir                     : 23 januari 2010 / jam 06.00 WIB
Jenis kelamin                             : laki – laki

Biodata orang tua
Nama                             : Ny. G                       Nama suami                : Tn. W
Umur                             : 37 tahun                    Umur                          : 40 tahun
Suku                              : Minang                     Suku                            : Minang
Bangsa                           : Indonesia                 Bangsa                                    : Indonesi
Agama                           : Islam                        Agama                          : Islam
Pendidikan                    : SMA                        pendidikan                  : SMA
Pekerjaan                       : IRT                           Pekerjaan                     : swasta
Alamat                           : Alahan Panjang        Alamat                        : Alahan Panjang
B. DATA SUBJEKTIF
o   Pasien masuk Pada tanggal / jam : 28 januari 2010 jam 09.00 WIB
o   Pasien di data pada tanggal / jam : 28 januari 2010 jam 09.05 WIB
1.      Keluhan utama :
- Ibu mengatakan bayi sering menangis dan rewel
- Ibu mengatakan tangan kanan bayinya tidak bereaksi terhadap ransangan yang
 diberikan
- ibu mengatakan telapak tangan kanan bayinya terbalik kearah belakang
- ibu mengatakan tangan kanan bayinya tidak bisa menggengam dan kedua telapak
  tangan terkulai lemah
- Ibu mengatakan tangan kanan bayinya seperti tangan orang lumpuh
2. Riwayat kehamilan ibu
a. Kehamilan yang ke : kehamilan anak ke -5
b. Keluhan selama hamil
Trimester I             :  sering kencing
Trimester II             : pegal pegal
Trimester III           : nyeri pinggang hingga ke perut dan sering kencing
Saat hamil bayi ini, ibu mengatakan pembesaran perutnya lebih besar dari kehamilan kehamilan sebelumnya
c. Riwayat penyakit kehamilan
Perdarahan              : tidak ada
Pre eklampsia          : tidak ada
Eklampsia              : tidak ada
Jantung                   : tidak ada
Asma                      : tidak ada
Penyakit lain           : tidak ada
d. Kebiasaan waktu hamil
Konsumsi Obat-obatan/jamu          : tidak ada
Merokok                                        : tidak ada
Alergi makanan tertentu                 : tidak ada dan nafsu makan sangat meningkat
  saat hamil
Alergi obat obat tertentu               : tidak ada
Lain-lain                                         : tidak ada
e. Kunjungan ANC
Trimester I                                     : 1 kali
Triemester II                                   : 2 kali
Trimester III                                   : 2 kali
3. Riwayat persalinan
a. Jenis persalinan                                : spontan
b. Di tolong oleh                                 : Bidan
c. Lama persalinan
Kala I                                              : 8 jam
Kala II                                            : 3 jam
Kala III                                           : 30 menit
Kala IV                                           : 2 jam
d. Penyulit saat lahir                           :
saat kepala lahir, lama sekali untuk melakukan putaran paksi luar,bidan mengalami kesulitan saat menolong kelahiran bahu
e. Tindakan yang dilakukan bidan      :
bidan menarik dengan kuat lengan bayi terutama lengan kanan
f. Ketuban                                           :
pecah spontan setelah pembukaan lengkap, ± 500 cc dan baunya amis
g. Plasenta                                           :
    lahir lengkap
h. Komplikasi persalinan lainnya :
    tidak ada
4. Riwayat kelahiran bayi
a. Berat badan                         : 3900 gram
b. Panjang badan                     : 50 cm
c. Lingkar dada                       : 32 cm
d. Lingkar kepala                    : 34 cm         
e. Apgar score                         : menangis kuat, kulit kemerahan pergerakan kaki aktif  
                                                  tetapi pergerakan tangan kanan tidak ada
f. Resusitasi                             : tidak dilakukan
g. Keadaan fisik                      : saat pemeriksaan fisik, organ tubuh lengkap, tetapi
                                                  terdapat kelainan pada lengan kanan yang tidak
                                                  bergerak
h. Tindakan keluarga               : belum ada, karena menurut keluarga hal tersebut akan
                                                  hilang dalam waktu 2 hari
i. Reflek saat lahir
 Reflek morro                     : tidak ada
 Reflek rooting                   : ada
 Reflek walking                  : tidak ada
 Reflek graph                      : tidak ada
 Reflek sucking                  : ada
 Reflek tonic neck              : tidak ada
j. Komplikasi lainnya               : tidak ada
5. Pola Nutrisi : bayi diberi ASI setiap kali 2 jam
6. Pola eliminasi
• BAK
Frekuensi                            : 7 - 8 x/hari
Warna                                 : kuning jernih
Konsistensi                         : encer
Kelainan                             : tidak ada
• BAB
Frekuensi                            : 1 - 2x/hari
Warna                                 : kuning keemasan
Konsistensi                         : lunak
Kelainan                             : tidak ada
7. Pola istirahat                            : bayi sering menangis sehingga jarang tidur
8. Personal hygiene                      : bayi dimandikan 2x sehari dan ganti popok 2x sehari
      9. Riwayat penyakit keluarga
a. Asma                                   : tidak ada
b. Jantung                                : tidak ada
c. Hipertensi                            : tidak ada
d. Ginjal                                  : tidak ada
e. Penyakit lain                        : tidak ada
C. DATA OBJEKTIF
1. Tanda tanda vital
Keadaan umum                         : Baik
Suhu                                          : 37, 2 C
Pernafasan                                 : 60 x / menit
Nadi                                           : 120 x / menit
Berat badan                               : 4000 gram
2. Pemeriksaan fisik
1) inspeksi
Kepala           : ubun ubun agak cekung, tidak ada caput dan tidak ada cephal   
                        Hematoma
Muka             : kemerahan, simetris kiri dan kanan, tidak ada oedema
Mata              : conjungtiva tidak pucat, sclera tidak ada ikterik dan tidak ada infeksi
Telinga          : Daun telinga lengkap, simetris kiri dan kanan, Lubang telinga ada
Mulut                        : bibir merah, tidak ada labio palato skizis dan labio
Hidung          : lubang hidung dibatasi sekat, tidak ada kelainan Pada lubang hidung
                        dan hidung bersih
Leher             : tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe
Dada                         : Bentuk simetris dan tidak ada pembengkakan
Tali pusat      : terawat dan terbungkus dalam kassa steril dan tidak ada tanda – tanda
                        infeksi
Punggung : tidak ada kelainan dan tidak ada spina bifida Ekstremitas
         Ekstremitas atas :
- jari jari tangan lengkap
- tidak ada pembengkakan
- tidak ada sianosis di ujung ujung jari
- terlihat kebiruan di kulit lengan kanan
- telapak tangan kanan terbalik kebelakang
- pergerakan tangan kiri aktif, tangan kanan tidak aktif
- tangan kanan tidak bisa menggengam
- tangan kanan terkulai lemah dan pergerakannya tidak seaktif tangan kiri.
- Saaat lengan kanan diraba, bayi langsung menangis
         Ekstrimitas bawah       :
- Jari - jari kaki lengkap- Pergerakan kaki kanan dan kiri aktif dan tidak ada  
  gangguan pergerakan
- tidak ada odema
- tidak ada sianosis di ujung ujung jari.
Genitalia     : testis sudah turun kedalam scrotum, saluran uretra dan penis ada dan
                      tidak ada kelainan
Anus           : ada lubangnya
3. Reflek
Reflek morro                 : tidak ada
Reflek rooting               : ada
Reflek walking              : tidak ada
Reflek graph                  : tidak ada
Reflek sucking               : ada
Reflek tonic neck          : tidak ada

2) Auskultasi :
- bunyi jantung normal dan teratur
- terdengar bising usus di abdomen kiri
II.                INTERPRETASI DATA
a.         Diagnosa
B.Ny.G umur 5hari dengan Jejas Persalinan Trauma Fleksus Branchialis
Dasar                                
1.       B.Ny,G berusia 5hari,Anak lahir tanggal 23 Januari 2010 pukul 06.00 WIB
Ds  :  Ibu mengatakan
-          Bayi berumur 5 hari
-          Bayi lahir spontan pukul 06.00  wib
-          Bayi lahir bugar
-          BB : 4000 gr   PB : 56,8 Cm
Do  : Tanda-Tanda Vital
Berat badan                                    : 3900 gram
Panjang badan                    : 50 cm
Lingkar dada                      : 32 cm
Lingkar kepala                    : 34 cm           
a. Masalah                                : Trauma Fleksus Branchialis
b. Kebutuhan                             :
1)    Immobilisasi parsial dan penempatan lengan yang sesuai untuk mencegah
       terjadinya kontraktur
2)    Beri penguat atau bidai selama 1-2 minggu pertama kehidupannya. Caranya :
        letakkan tangan bayi yang lumpuh disamping kepalanya yaitu dengan memasang
        perban pada pergelangan tangan bayi kemudian dipanitikan dengan bantal atau
        seprei disamping kepalanya
3)    Rujuk segera kerumah sakit
III. Masalah Potensial                 : tidak ada
IV. Tindakan Segera                  : tidak ada
1)    Immobilisasi parsial dan penempatan lengan yang sesuai untuk mencegah
       terjadinya kontraktur
2)    Beri penguat atau bidai selama 1-2 minggu pertama kehidupannya. Caranya :
        letakkan tangan bayi yang lumpuh disamping kepalanya yaitu dengan memasang
        perban pada pergelangan tangan bayi kemudian dipanitikan dengan bantal atau
        seprei disamping kepalanya
3)    Rujuk segera kerumah sakit
V.    Intervensi
No
Hari/Tanggal/Jam
Tujuan /Kriteria

Intervensi
Rasional
Paraf
Dx
Rabu,28 Januari 2010
Pukul
09.05 WIB
Tujuan :Mengetahui kondisi bayi dengan Trauma Fleksus Branchalis
 
kriteria : ibu
tau tentang kondisi anaknya dengan trauma fleksus branchialis dan mampu untuk merawat anaknya melalui terapi yang akan diberikan
1)  jelaskan pada ibu tentang tindakan yang akan diberikan bidan berupa  Immobilisasi parsial dan penempatan lengan yang sesuai untuk mencegah terjadinya kontraktur

2)    jelaskan pada ibu bahwa anaknya akan diberi penguat atau bidai selama 1-2 minggu pertama kehidupannya. Caranya : letakkan tangan bayi yang lumpuh disamping kepalanya yaitu dengan memasang perban pada pergelangan tangan bayi kemudian dipanitikan dengan bantal atau seprei disamping kepalanya

3)   Jelaskan pada ibu jika masih berlanjut segera  rujuk kerumah sakit.



4) Jelaskan pada ibu untuk memperhatikan nutrisi yang akan diberikan









5) Jelaskan pada ibu tentang perawatan sehari hari kepada anaknya.
1) Dengan mengetahui tindakan yang akan diberikan bidan ibu dapat mengerti manfaatnya dan ibu tidak merasa cemas.

2) Dengan mengetahui  diberi penguat atau bidai ibu dapat menjaga bidai nya agar tidak lepas dan tangannya tetap stabil.









3)  Dengan mengetahui bahaya berlanjut ibu dapat segera memutuskan tindakan.

4) Dengan ibu mengetahui nutrisi yang diberikan ,ibu dapat memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan anaknya.( berupa ASI ekslusif 6 bulan pertama )

5) Dengan melakukan perawatan sehari hari pada anaknya ibu dapat menjaga kebersihan anak.



VI.   Implementasi
No
Hari/Tanggal / Jam
Implementasi
Respon
Paraf
Dx
Rabu,28 Januari 2010
Pukul
09.05 WIB
1)  jelaskan pada ibu tentang tindakan yang akan diberikan bidan berupa  Immobilisasi parsial dan penempatan lengan yang sesuai untuk mencegah terjadinya kontraktur

2)    jelaskan pada ibu bahwa anaknya akan diberi penguat atau bidai selama 1-2 minggu pertama kehidupannya. Caranya : letakkan tangan bayi yang lumpuh disamping kepalanya yaitu dengan memasang perban pada pergelangan tangan bayi kemudian dipanitikan dengan bantal atau seprei disamping kepalanya

3)   Jelaskan pada ibu jika masih berlanjut segera  rujuk kerumah sakit.



4) Jelaskan pada ibu untuk memperhatikan nutrisi yang akan diberikan







5) Jelaskan pada ibu tentang perawatan sehari hari kepada anaknya.
1.Ibu mengerti dan mau memberikan keputusan tentang tindakan bidan yang berupa mobilisasi parsial dan penempatan lengan.


2)  Ibu mengerti bahwa anak akan diberikan penguat atau bidai pada tangan bayi yang lumpuh.








3)  Ibu  mengerti jika ada keluhan berlangsung keluarga akan melakukan rujukan kerumah sakit.


4) Ibu  mengerti cara untuk memberikan nutrisi yang sesuai kepada bayi berupa
Asi ekslusif selama 6 bulan pertama
5. Ibu mengerti cara melakukan hubunga baik dengan anaknya dan melakukan penyesuaiannya.

5) Ibu mengerti tentang perawatan anaknya sehari hari pasca terapi trauma fleksus branchialis.

VII. Evaluasi
No
Hari/ Tgl / Jam
Evaluasi
Paraf
Dx
Rabu,28 Januari 2010
Pukul
09.05 WIB
S :  Ibu mengatakan
        Ingin mengetahui kondisi kesehatan bayinya
        Tidak ada masalah dalam menyusui
        Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan trauma fleksus branchialis
        Dapat melakukan perawatan terhadap tangan kanan anaknya yang patah
        Akan melakukan anjuran yang diberikan oleh Tenakes
O :
BB    : 3900 gr                  Temp   : 36,70C
PB : 50 cm                      LK       : 35 Cm
LD : 33 cm                       Pols     : 120 x/mnt
RR    : 60 x/mnt
A :  Tujuan Tercapai
 P :   Intervensi dihentikan  


























DAFTAR PUSTAKA

·         Hasan R., Alatas H., Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI,        Jakarta, 1985 : 1069-1071.
·         Wiknjosastro H., Perlukaan persalinan, dalam Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1997 : 716-722.
·         Behrman R., Vaughan V., Trauma lahir, dalam Nelson- Ilmu Kesehatan Anak, Ed. XII, EGC, Jakarta, 1994 : 608-614.

1 komentar: